Cahaya Pena
Beranikah kita menulis?
Sudahkah kalian jawab? Jika belum, jawab terlebih dahulu. Bisikkan perlahan. Jika belum, Mengapa?
Tidak semua orang berani dalam menulis. Bahkan seorang sarjana, ilmuwan dengan segenap titel di penghujung nama belum tentu memiliki nyali. Ketika disodorkan kesempatan untuk menulis mereka lebih memilih untuk tidak menulis. Bukankah demikian?
Menulis bukan hanya menyusun huruf menjadi kata. Menyatukan dalam kalimat. Merangkai dalam paragraf. Bukan hanya demikian. Namun, keberanian memegang kendali utama ketika memulai menulis.
Apayang kalian takutkan? Takut tulisan jelek, takut ide gak kekinian, takut dinilai orang lain, bukankah kita sering terkungkung dari hal ini?
Bukankah segudang teori sudah kalian miliki? Namun, mengapa masih saja bingung hendak menuliskan apa. "Menulis itu berbagi, menulis itu saling memberi informasi". Bukankah itu hanya 2 ungkapan dari ribuan ungkapan tentang menulis?
Lepaskan saja kawan. Angkat tempurung ketakutan kita, agar menumbuhkan keberanian setiap kata kita. Mengapa? Karena tanpa keberanian tulisan kita tak kemana.
Ketika kita mulai terjun dalam dunia kepenulisan ada beberpa hal yang mesti di tumbuhkan. Salah satunya adalah KEBERANIAN. Ketika kita masih bersembunyi dibalik tidak bisa, ku sampaikan untuk kita saja kawan.
1. Tukar kacamata
Kacamata yang harus kita gunakan adalah kacamata kita sendiri kawan. Terkadang kita lupa menggunakan kacamata orang lain dalam menilai. Yang terjadi bukan percaya diri, namun tidak ada niatan memulai. Sebab, kita bersembunyi dari berbagai alasan.
Beranikan untuk memulai. Mulai saja menuliskan dari hal yang sering kita lakukan. Bukankah kita semua memiliki aktivitas keseharian yang berbeda-beda. Bukankah ada ruang yang bisa kalian bagikan di sana?
Tuliskan dari kacamata kita sendiri. Aktivitas sama, ide sama, umur sama, bukankah kelak yang dituliskan berbeda? Bukankah narasi yang disampaikan suka-suka kita. Lakukan sekarang kawan.
Setelah semua berkumpul saatnya kini kalian memulai. Benar begitu? Mari kita mulai menulis dengan kacamata kita.
Sekilas saja. Bukankah kita saat ini pandemi di mana - mana
2. Belajar berbagi lewat kemampuan kita
Terkadang kita sangat kaku untuk menentukan ide. Harus ciamik, harus keren, harus bisa ngetop, harus dan harus. Bukankah begitu?
Benar kawan, kita mesti bermimpi menjadi lebih baik dan terbaik. Tidak ada yang salah memang. Memancang tekad hebat di depan sana. Adakah yang terlupa?
Ya, terkadang kita lupa menulis itu bercerita tentang kita. Ketika sedang belajar menulis, kita mesti belajar terlebih dahulu bercerita dengan diri sendiri.
Jangan paksakan menulis seperti mereka. Meski kita harus belajar. Tapi, menulislah semampu kita. Ceritakan saja sepagi ini kita melakukan apa saja.
Ceritakan saja asiknya mendidik, ketika kalian menjadi pendidik. Tuliskan saja bagaimana menjadi ibu yang disayang anak-anaknya, ketika kalian menjadi seorang ibu. Bukankah bisa?
Bahkan, motor kempes dan roti gosong saja bisa menjadi cerita. Bukankah demikian?
Terlebih kalian memiliki bidang profesi bukan? Tuliskan saja bagaimana bongkar karburator ketika kalian asik dengan dunia perbengkelan. Tak ada yang salah bukan?
"Menulis itu berbagi informasi"
Lepaskan saja, tuliskan agar menggurat pada kertas kita. Setidaknya menulis untuk mengingatkan kita. Selebihnya bonus memberikan informasi untuk siapa saja.
Memberi itu bonus, setelah kita berani menuliskan. Benar demikian? Berarti berani menuliskan adalah yang utama bagi diri kita bukan?
3. Tuliskan hal-hal membangun
Terkadang kita tak menyangka. Kata adalah doa. Benar bukan?
Lepaskan saja kata-kata yang membangun. Menyusun mimpi bisa dari sini kawan. Dari hal-hal yang membangunkan kita untuk terus bermimpi.
Tuliskanlah hal-hal positif maka kalian akan terbawa dalam arusnya. Arus hal positif yang membawa kita. Pernah saya membaca.
"Jadilah lebah, meski berada di tengah tumpukan sampah ia akan tetap mencari madu. Jangan menjadi lalat, meski berada di tengah padang bunga nan indah ia akan tetap mencari sampah."
Bukankah dibalik kritikan ada hikmah. Bukankah dibalik letihnya kita pemantik yang menyalakan semangat kita. Lepaskan saja hal-hal positif di sekitar kita. Tuliskan saja.
Bukankah kelak akan membawa kita pada muara yang sama. Muara karya positif yang membangun. Ajak pembaca kita menikmati indahnya hal yang membangkitkan kita.
Tuliskan hal-hal positif untuk membangkitan kita berani menulis. Berani, memulai. Berani berkarya.
Kawan, ini waktu kita. Ketika ide sudah di depan mata. Kini waktunya kita memberanikan diri. Meneruskan ide dalam larik-larik kata.
Bangun, mimpi kita bisa menulis lewat keberanian. Kita mesti berdiam? Tidak kawan. Kita mesti melawan ketakutan, dengan keberanian memulai. Memulai menulis, agar mimpi-mimpi buku yang sudah ditetapkan terwujudkan.
Bangunkan mimpi kita. Beranikan diri menuliskan. Kapan? Sekarang.
Salam literasi
=======
_ijin share dari irfan afandi_

Komentar
Posting Komentar